akarta – Presiden ke-2 RI Soeharto potong uang Rp1.000 jadi Rp1 melalui sanering 13 Desember 1965. Kebijakan ini atasi hiperinflasi 650% pasca-G30S PKI. Selain itu, sanering jadi langkah darurat selamatkan ekonomi dari kelaparan massal. Dengan demikian, inflasi turun drastis dalam setahun. Baca Supersemar Soeharto di sini.
Latar Belakang Sanering: Hiperinflasi 650% dan Krisis Devisa
Potong uang Rp1.000 jadi Rp1 karena warisan Soekarno: inflasi melonjak 650% akibat cetak uang berlebih. Oleh karena itu, harga beras naik 1.000 kali lipat. Namun, cadangan devisa tinggal US$100 juta. Akibatnya, rakyat hadapi kelaparan massal. Dengan demikian, Supersemar 11 Maret 1966 beri wewenang Soeharto ambil tindakan. Selain itu, Tim Ekonomi bentuk Oktober 1966. Lihat data inflasi BPS 1965 .
Mekanisme Sanering: Potong 1.000:1 dan Bekukan Tabungan
Soeharto potong uang Rp1.000 jadi Rp1 untuk pecahan Rp500 dan Rp1.000. Oleh karena itu, uang kertas baru Rp1 setara Rp1.000 lama. Akibatnya, tabungan di atas Rp25.000 dibekukan 6 bulan. Dengan demikian, uang beredar berkurang 75%. Namun, sanering lindungi rakyat miskin dengan batas Rp25.000. Selain itu, gaji PNS naik 100% kompensasi. Baca mekanisme sanering.
Dampak Langsung: Inflasi Turun dari 650% ke 100%
Potong uang Rp1.000 jadi Rp1 bawa hasil cepat. Oleh karena itu, inflasi turun dari 650% (1965) ke 100% (1966). Akibatnya, harga beras stabil 1967. Dengan demikian, impor beras darurat 1 juta ton masuk. Namun, bantuan IGGI US$200 juta stabilkan devisa. Selain itu, Keseimbangan Anggaran 1967 jadi fondasi Repelita. Lihat dampak sanering BPS .
Kontribusi Sanering untuk Repelita dan Swasembada
Sanering jadi pintu Repelita I (1969). Oleh karena itu, fokus pertanian: Bimas, Inmas, pupuk subsidi. Akibatnya, produksi beras naik dari 10 juta ton (1965) ke 15 juta ton (1970). Dengan demikian, swasembada pangan capai 1984. Namun, PDB tumbuh 6% per tahun. Selain itu, sanering kurangi defisit anggaran dari 300% PDB. Baca Repelita I Soeharto.
Reaksi Masyarakat dan Kritik Sanering
Rakyat miskin dukung sanering. Oleh karena itu, kelaparan massal berakhir 1968. Akibatnya, kelas menengah tumbuh. Dengan demikian, sanering jadi simbol disiplin fiskal. Namun, kritik datang dari pemilik tabungan besar. Selain itu, beberapa sebut sanering “kejam”. Meskipun demikian, ekonom puji langkah berani Soeharto. Baca kritik sanering.
Potong uang Rp1.000 jadi Rp1 selamatkan Indonesia dari kehancuran. Oleh karena itu, dari hiperinflasi ke stabilisasi, warisan ini perkuat NKRI. Pantau update di bps.go.id .














