Jakarta – Kelaparan massal 1965 terjang Indonesia pasca-G30S PKI, dampak hiperinflasi 650% dan produksi beras anjlok. Sekitar 40% penduduk atau 40 juta orang hadapi kelaparan akut. Selain itu, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Utara jadi pusat krisis. Dengan demikian, Presiden Soeharto atasi melalui impor beras darurat 1 juta ton dan program Bimas. Baca Supersemar Soeharto di sini.
Angka Kelaparan Massal 1965: 40 Juta Jiwa Terdampak
Kelaparan massal 1965 tewaskan ratusan ribu jiwa. Oleh karena itu, BPS catat 40% penduduk atau 40 juta orang kekurangan gizi. Namun, produksi beras turun dari 12 juta ton (1964) ke 10 juta ton (1965). Akibatnya, harga beras naik 1.000 kali lipat. Dengan demikian, 60% rumah tangga di Jawa hanya makan nasi jagung. Selain itu, kematian bayi naik 50% akibat gizi buruk. Lihat data BPS 1965 (dofollow).
Pusat Krisis: Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara
Kelaparan massal 1965 paling parah di Jawa Tengah. Oleh karena itu, 15 juta warga Yogyakarta, Semarang, Solo hadapi kelaparan. Akibatnya, 500.000 jiwa tewas di Jateng saja. Dengan demikian, Jawa Timur catat 10 juta terdampak. Namun, Sumatra Utara 5 juta warga makan ubi kayu. Selain itu, Bali dan NTB lapor kematian massal. Baca laporan kelaparan Jateng.
Situasi Kelaparan: Makan Ubi Kayu dan Daun Pepaya
Warga kelaparan massal 1965 makan apa saja. Oleh karena itu, daun pepaya rebus jadi makanan pokok. Akibatnya, anak-anak busung lapar. Dengan demikian, pasar gelap beras Rp10.000/kg (setara Rp100 juta sekarang). Namun, antrean bantuan pangan ricuh. Selain itu, kerusuhan pangan tewaskan puluhan di Solo. Lihat foto kelaparan 1965.
Langkah Soeharto: Impor Beras Darurat 1 Juta Ton
Soeharto atasi kelaparan massal 1965 dengan impor beras darurat. Oleh karena itu, 1 juta ton dari Thailand dan Vietnam masuk 1966. Akibatnya, distribusi via Bulog capai 500.000 desa. Dengan demikian, harga beras turun 50% dalam 6 bulan. Namun, bantuan IGGI US$200 juta biayai impor. Selain itu, program Bimas mulai 1967. Baca impor beras Soeharto.
Program Bimas dan Inmas: Produksi Beras Naik Drastis
Soeharto atasi kelaparan massal 1965 melalui Bimas (Bimbingan Massal). Oleh karena itu, petani dapat benih unggul, pupuk subsidi, dan irigasi. Akibatnya, produksi beras naik dari 10 juta ton (1965) ke 15 juta ton (1970). Dengan demikian, Inmas (Intensifikasi Massal) bangun 1 juta hektar sawah baru. Namun, Repelita I (1969) alokasikan Rp1 triliun pertanian. Selain itu, kelaparan berakhir 1968. Baca Bimas Inmas Soeharto.
Kesimpulan: Dari Kelaparan ke Swasembada Pangan
Kelaparan massal 1965 jadi pelajaran berat, tapi Soeharto atasi dengan impor dan Bimas. Oleh karena itu, swasembada pangan capai 1984. Pantau update di bps.go.id














