banner 728x250

Prabowo Sambut Lula: RI-Brasil Genjot Energi & Pertambangan

Prabowo Subianto sambut Presiden Lula Brasil di Istana Merdeka, MoU energi pertambangan 2025
Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden Lula da Silva usai penandatanganan 8 MoU strategis di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Oktober 2025.

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Luiz InĂ¡cio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (23/10/2025). Pertemuan bilateral ini menghasilkan delapan nota kesepahaman (MoU) strategis, dengan fokus utama pada penguatan kolaborasi di sektor energi dan pertambangan. Kesepakatan ini diharapkan membuka peluang investasi hingga lebih dari US$5 miliar dan mempercepat transisi energi bersih kedua negara.

Kunjungan Lula merupakan balasan atas lawatan Prabowo ke Brasilia pada Juli 2025, di mana kedua pemimpin membahas isu krusial seperti ketahanan iklim dan bioenergi. “Kita adalah dua kekuatan Global South yang sedang bangkit. Kerja sama ini strategis untuk masa depan kita,” kata Prabowo dalam pernyataan bersama, seperti dilaporkan oleh Sekretariat Presiden. Sementara itu, Lula menekankan komitmen Brasil untuk berbagi pengalaman dalam pengolahan biomassa menjadi energi terbarukan, yang telah menjadikan Brasil sebagai pemimpin dunia di bidang biofuel.

MoU Energi dan Pertambangan: Langkah Konkret Menuju Transisi Hijau

Puncak dari pertemuan ini adalah penandatanganan MoU antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia dengan Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil. Dokumen ini mencakup kerja sama hulu hingga hilir, termasuk riset, pelatihan, pertukaran informasi, dan proyek bersama di bidang minyak dan gas (migas), energi baru terbarukan (EBT), serta pertambangan berkelanjutan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang menandatangani MoU, menyebut kesepakatan ini sebagai “babak baru” bagi hubungan bilateral. “Indonesia dan Brasil kaya sumber daya alam. Kita bisa saling untungkan: Brasil bagikan teknologi biofuel, sementara Indonesia tawarkan nikel untuk baterai kendaraan listrik,” ujar Bahlil di sela acara. Brasil, dengan pengalaman panjang dalam etanol dari tebu, diharapkan membantu Indonesia mengembangkan biodiesel dari sawit dan jarak, sejalan dengan target biodiesel B35 yang telah hemat impor energi hingga miliaran dolar.

Di sektor pertambangan, fokus utama adalah eksplorasi mineral kritis seperti litium dan kobalt, yang krusial untuk rantai pasok global baterai. “Ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga ketahanan iklim. Kedua negara berkomitmen kurangi emisi karbon melalui energi hijau,” tambah Bahlil. MoU ini melanjutkan kerangka kesepakatan sejak 2008, tapi kini lebih konkret dengan target implementasi dalam dua tahun ke depan.

Delapan MoU Lainnya: Jangkauan Luas dari Sains hingga Dagang

Selain energi, kedua negara menandatangani tujuh MoU lain yang meliputi:

  • Kerja sama sains, teknologi, dan inovasi antara BRIN Indonesia dan Kementerian Sains Brasil.
  • Kolaborasi statistik antara BPS dan Institut Geografi Brasil.
  • Investasi antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan perusahaan Brasil JBS di sektor pengolahan daging.
  • Kerja sama pertanian, sanitasi, dan promosi dagang melalui KADIN dan APEC.

Potensi nilai kesepakatan ini mencapai lebih dari US$5 miliar, termasuk percepatan negosiasi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-Mercosur. Prabowo meminta dukungan Brasil untuk meratifikasi CEPA tersebut, yang bisa membuka pasar Amerika Latin senilai ratusan miliar dolar bagi produk Indonesia seperti sawit dan nikel.

Lula, yang dikenal sebagai pembela negara berkembang di forum G20, menjawab positif. “Brasil siap dukung Indonesia sebagai pemimpin ASEAN. Kita harus bersatu lawan tantangan global seperti perubahan iklim,” katanya.

Dampak Ekonomi: Peluang bagi Global South

Bagi Indonesia, kerja sama ini strategis di tengah target net zero emission 2060. Dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia bisa belajar dari Brasil soal pengelolaan hutan hujan Amazon yang terintegrasi dengan pertambangan ramah lingkungan. Sebaliknya, Brasil tertarik impor nikel Indonesia untuk industri EV mereka.

Analis ekonomi dari Universitas Indonesia menilai, MoU ini bisa tingkatkan ekspor Indonesia ke Brasil hingga 20% dalam tiga tahun. “Ini langkah cerdas Prabowo untuk diversifikasi mitra dagang di luar AS dan China,” kata pakar tersebut. Namun, tantangan seperti regulasi lingkungan EUDR Uni Eropa tetap harus diatasi bersama.

Kunjungan ini juga melambangkan solidaritas Global South. Prabowo bahkan mengumumkan rencana pengajaran bahasa Portugis di sekolah Indonesia, sebagai simbol persahabatan jangka panjang.

Pertemuan berakhir dengan perang berpelukan kedua pemimpin, menandai babak baru hubungan bilateral yang lebih erat. Apakah ini awal dari “era emas” kolaborasi Indonesia-Brasil? Waktu akan menjawab, tapi langkah hari ini jelas membuka pintu peluang besar di sektor energi dan pertambangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *